Rabu, 28 Desember 2016

Meraih Keberkahan Hidup dengan Tawakal

Di antara keistimewaan Nabi Isa adalah beliau dianugerahi keberkahan di mana pun berada. Hal ini disebutkan dalam surat Maryam ayat: 31,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيۡنَ مَا كُنتُ

“Dan Dia (Allah) menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada.”
Tentu ini merupakan nikmat dari Allah subhanahu wa ta’ala yang sangat besar untuk Nabi Isa ‘alaihissalam. Keberkahan, yaitu tetapnya kebaikan, selalu menyertai Nabi Isa ‘alaihissalam dalam tutur kata dan perbuatannya. Bahkan, keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala tak pernah lepas darinya di kala senang ataupun susah.
Nikmat yang agung seperti ini tidak semua orang mendapatkannya. Bisa jadi di sana ada orang yang diberkahi ketika duduk di majelis ilmu. Namun, dia tidak diberkahi saat berada di tengah-tengah keluarganya dengan berbuat zalim kepada anak dan istrinya.
Sebagian orang diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk beramal kebaikan saat lapang, namun tidak diberkahi saat sulit. Padahal apabila keberkahan hidup menyertai seseorang, sesuatu yang sedikit bisa menjadi banyak; perubahan kondisi pun tidak akan mengubah semangatnya menjalankan ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jumat, 30 September 2016

Seputar Pendidikan Anak


Orang Tua Tidak Memerhatikan Anaknya 

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Baaz rahimahullah pernah ditanya, “Sebagian orang tua tidak memerhatikan urusan agama anak-anaknya, seperti tidak menyuruh mereka untuk shalat, membaca al-Qur’an, atau berteman dengan orang-orang yang baik. Akan tetapi, dia amat memerhatikan sisi pendidikan sekolah, bahkan bisa marah apabila anaknya membolos. Apa nasihat Anda, wahai Samahatusy Syaikh?”
Beliau rahimahullah menjawab,
“Nasihat saya kepada mereka—para ayah, paman, atau saudara laki-laki— hendaknya mereka bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam urusan anak-anak yang berada dalam tanggung jawabnya. Hendaknya mereka menyuruh anak-anak itu untuk shalat ketika telah menginjak usia tujuh tahun dan memukulnya apabila meninggalkan shalat ketika mereka telah berumur sepuluh tahun.
Hal ini sebagaimana hadits yang sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

مُرُوا أَبْنَاءَكُمْ بِالصَّ ةَالِ لِسَبْعٍ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا لِعَشْرٍ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika berumur tujuh tahun dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika berumur sepuluh tahun, dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka!”
Karena itu, wajib bagi ayah, ibu, atau saudara yang lebih tua untuk memerintah orang yang ada di bawah tanggung jawabnya untuk melaksanakan shalat dan kewajiban lainnya, melarang mereka dari segala sesuatusubhanahu wa ta’ala, dan mengharuskan mereka melakukan apa saja yang telah Allah subhanahu wa ta’ala wajibkan. Inilah kewajiban mereka.
yang diharamkan oleh Allah

Rabu, 28 September 2016

Musuh Dalam Selimut


Globalisasi membuat dunia seakan tanpa batas. Salah satu ‘hasil’-nya, tayangan-tayangan televisi mengalir deras mewarnai kehidupan sebagian besar rumah tangga muslim tanpa terbendung. Ini jelas membawa implikasi serius. Tanpa disadari, kerusakan akhlak telah menjadi ancaman di depan mata.
Kususun tulisan yang sederhana ini, menghimpun akibat buruk media televisi dan media audiovisual lainnya.

Pertama, melalui layar televisi dan media sejenis, seseorang akan memandang wanita, padahal hal ini diharamkan, sama saja baik memandang kepada diri wanita tersebut maupun sekadar gambarnya. Firman Allah ‘azza wa jalla:

قُل لِّلۡمُؤۡمِنِينَ يَغُضُّواْ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِمۡ وَيَحۡفَظُواْ فُرُوجَهُمۡۚ

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka.” (an-Nur: 30)
Apabila memandang wajah wanita tidak diperbolehkan, bagaimana pula dengan orang yang melihat rambut wanita, terkadang dada bahkan seluruh tubuhnya, seakan-akan wanita tersebut adalah hewan yang berjalan di atas bumi. Semua itu, biasanya menimbulkan keinginan atau fantasi untuk melakukan hal-hal yang Allah ‘azza wa jalla haramkan kaitannya dengan hasrat seksual.
Demikian pula seorang wanita akan memandang laki-laki, sementara seorang wanita berdosa apabila memandang laki-laki. Allah ‘azza wa jalla berfirman:

وَقُل لِّلۡمُؤۡمِنَٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ أَبۡصَٰرِهِنَّ

“Dan katakanlah kepada kaum wanita yang beriman, hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka.” (an-Nur: 31)

Senin, 04 Juli 2016

Al Bara, Kosekuensi Akidah dan Tauhid

Al Bara, Kosekuensi Akidah dan Tauhid
Saudaraku, menelusuri jejak kehidupan orang-orang yang mulia, bermartabat tinggi, dan terhormat dari kalangan para nabi, kaum shiddiqin, syuhada, dan orang saleh, kita dapatkan bahwa semua itu mereka dapatkan dan raih dengan pengorbanan yang sangat besar dan tidak sedikit.
Bahkan, sampai harus mengorbankan darah dan nyawa. Sungguh, mereka adalah sederetan orang-orang mulia dan bahagia, kaum yang memiliki jiwa pemberani dan tabah menghadapi berbagai tantangan dan risiko dalam hidup.
Mereka adalah barisan orang-orang yang memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dalam menghadapi ujian dan cobaan hidup yang jika disodorkan kepada kita, niscaya kita akan lari dari agama-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada nabi dan rasul-Nya,

فَٱصۡبِرۡ كَمَا صَبَرَ أُوْلُواْ ٱلۡعَزۡمِ مِنَ ٱلرُّسُلِ

“Bersabarlah engkau sebagaimana bersabarnya ulul ‘azmi dari para rasul.” (al-Ahqaf: 35)
Sabar
Apakah yang menyebabkan mereka siap memikul risiko hidup yang sangat besar? Jawabannya adalah apa yang diceritakan oleh Allah tentang para nabi dan rasul dalam kitab suci-Nya,

فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ فَمَا سَأَلۡتُكُم مِّنۡ أَجۡرٍۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۖ وَأُمِرۡتُ أَنۡ أَكُونَ مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ٧٢

“Jika kalian berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta imbalan sedikit pun dari kalian dan sesungguhnya imbalanku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya).” (Yunus: 72)

وَيَٰقَوۡمِ لَآ أَسۡ‍َٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مَالًاۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِۚ

Dan (Nabi Nuh berkata), “Hai kaumku, aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai imbalan) bagi seruanku. Imbalanku hanyalah dari Allah.” (Hud: 29)

وَمَآ أَسۡ‍َٔلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٢٧

Dan (Hud berkata), “Sekali-kali aku tidak minta imbalan dari kalian atas ajakan itu; imbalanku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.” (asy-Syu’ara: 127)

Selasa, 10 Mei 2016

Globalisasi Menghancurkan Generasi

Karena seringnya membaca, melihat, dan mendengar hal-hal yang haram melalui berbagai media, rasa malu pun akan terkikis dari hati, bahkan bisa jadi hilang sama sekali. Padahal rasa malu adalah unsur pokok yang menghidupkan hati. Islam datang membawa syariat yang mulia lagi sempurna. Allah ‘azza wa jalla berfirman dalam kitab-Nya, ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitakan tentang misi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus oleh Allah ‘azza wa jalla, إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Hanyalah aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad, Malik, dan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/75) Akan tetapi, kemuliaan dan kesempurnaan syariat Islam tidak akan disadari dan diyakini selain oleh orang-orang yang diberi hidayah taufik dari Allah ‘azza wa jalla. Apalagi di zaman sekarang, yang disebut era globalisasi dan teknologi

Minggu, 06 Desember 2015

” Menengok Kesabaran Diri Kala Ujian dan Cobaan Menerpa”

Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Tak ada jalan yang tak berkelok Tak ada lautan yang tak berombak. Tak ada ladang yang tak beronak. Di mana ada kehidupan pasti di situ ada ujian dan cobaan. Demikianlah sekelumit tentang sketsa kehidupan dunia yang fana ini. Allah Subhanahu wata’ala menjadikannya sebagai medan tempaan (darul ibtila’), untuk menguji kualitas kesabaran dan penghambaan segenap hamba-Nya.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menguji hamba-Nya yang beriman tidak untuk membinasakannya, tetapi untuk menguji sejauh manakah kesabaran dan penghambaannya. Sebab, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam kondisi sulit dan dalam hal-hal yang tidak disukai (oleh jiwa), sebagaimana pula Dia Subhanahu wata’ala wajib diibadahi dalam hal-hal yang disukai. Kebanyakan orang siap mempersembahkan penghambaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam hal-hal yang disukainya. Karena itu, perhatikanlah penghambaan kepada-Nya dalam hal-hal yang tak disukai. Sebab, di situlah letak perbedaan yang membedakan kualitas para hamba. Kedudukan mereka di sisi Allah Subhanahu wata’ala pun sangat bergantung pada perbedaan kualitas tersebut.” (al-Wabil ash-Shayyib, hlm. 5)
Ujian dan Cobaan dalam Ranah Kehidupan Beragama
Setiap muslim sejati tentu menyadari bahwa ragam ujian dan cobaan pasti menerpa kehidupannya. Tiada bimbingan ilahi dalam menghadapi ragam ujian dancobaan itu melainkan dengan bersabar atasnya meski disadari bahwa kesabaran itu sangat berat dilakukan. Namun, itulah hikmah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wata’ala Dzat Yang Maharahman. Dalam ranah kehidupan beragama, ada tiga jenis ujian dan cobaan yang tak mungkin seorang muslim lepas darinya. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, pasti dia akan menghadapinya. Tiga jenis ujian dan cobaan itu adalah sebagai berikut,
1. Perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala yang wajib ditaati.
2. Larangan-larangan Allah Subhanahu wata’ala (kemaksiatan) yang wajib dijauhi.
3. Musibah yang menimpa (takdir buruk).

Senin, 23 November 2015

7 Amalan Sederhana yang Akan dibalas Dengan Istana di Surga (Asy-Syaikh Badr Al-Badr)

 7 Amalan Sederhana yang Akan dibalas Dengan Istana di Surga (Asy-Syaikh Badr Al-Badr)
Alhamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Alihi wa Shahbihi wa man walah, wa ba’du:
Berikut ini adalah beberapa amalan yang telah dikhabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya barangsiapa yang mengamalkannya akan Allah bangunkan untuknya istana di jannah (surga).
  1. Orang yang Membangun Masjid Karena Allah
Dari Utsman bin ‘Affan Radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah ‘alaihis Shalatu was Salam bersabda, “Barangsiapa membangun masjid karena mengharap wajah Allah, maka akan Allah bangunkan untuknya sebuah Istana di jannah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Pengumuman

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم و رحمت الله و بركاته

Ahlan wasahlan di blog kami, semoga dapat menambah keilmuan dan keimanan kita terhadap Allah Subhanahu wata'ala.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلاً. يَاوَيْلَتَى لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلاً. لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا “Dan ingatlah hari ketika itu orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, ‘Aduhai kiranya dulu aku mengambil jalan bersama-sama Rasul. Kecelakaan besarlah bagiku, andai kiranya dulu aku tidak menjadikan si Fulan itu teman akrabku. Sungguh ia telah menyesatkan aku dari Al-Qur`an ketika Al-Qur`an itu telah datang kepadaku.’ Dan adalah setan itu tidak mau menolong manusia.” (Al-Furqan: 27-29)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ “Seseorang itu menurut agama teman dekat/sahabatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat dengan siapa ia bersahabat/berteman.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 927)

Semoga bermanfaat.